Tentang tulisan

Apapun yang kau tulis, kau sampaikan. Akan menjadi ujian bagimu. Dapatkah kau jalankan?

Sungguh, kalimat-kalimat laman ini adalah pertanyaan dan sanggahan. Bahwa hati sejujurnya tak pernah pantas.

Cukuplah tiap kata yang tersampaikan jadi penghubung hati-hati yang baik tuk saling mendoakan.

Iklan

Refleksi: Bintang

Teman, coba bayangkan salah satu dari ini:

  1. Orang tua kita wafat
  2. Impian kita terwujud
  3. Semua materi kita dicabut
  4. Kaki kita lumpuh
  5. Kita bisa terbang kemanapun yang kita mau
  6. Anak pertamamu lahir
  7. 7 menit sebelum kita wafat

Lalu sebuah pertanyaan sederhana:

Sedetail apapun kita bisa membayangkannya, mensimulasikannya, apa kita bisa merasakan perasaan kita saat kita benar-benar mengalaminya kelak? Tidak.

An-Najm(53):24 – Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?

Seringkali kita berpikiran kita akan bahagia bila begini dan begitu.. akan menderita bila begini dan begitu.. nyatanya, perasaan manusia sama sekali tak dapat direfleksikan pada bayang-bayang.

An-Najm (53):25 – ,maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.

Berhentilah mensyaratkan bahagia, jadilah cukup saja. Namun perbaikan dan tugas perubahan harus tetap dijalani. Hanya saja, jangan sekali-kali kita kaitkan hati kita disana. Bahagia dan sedih kita sepenuhnya hak Allah.

An-Najm (53):43 – dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

Dia Maha Tahu.

Apa kita tau kalau Allah Maha Tau?

Al-Baqarah:216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Sebuah pertanyaan sederhana. Apa kita tau kalau Allah Maha Tau? Coba, bener-bener pikirin.

Ada dua hal yang selalu ada pada sebuah tindakan atau kejadian: sebab dan akibat. Sifat Allah Maha Tahu disebutkan di quran untuk menjamin akibat. Sedangkan sebabnya sendiri sudah Allah beritahukan. Contoh, ayat diatas, sebabnya adalah soal kewajiban berperang. Dijelaskan ke kita bahwa Allah Tahu akibatnya baik.

Sifat Allah Maha Tahu selalu bisa kita temuin di ayat-ayat dengan perintah (sebab) yang jelas bahkan rinci di quran. Misal: perintah menikahkan sekalipun miskin (24:32), perintah menjalankan pembagian harta waris (4:11), atau perintah mencatat muamalah (2:282 & 2:283).

Ya. Allah Maha Tahu adalah sebuah penjelasan, janji, jaminan dari akibat keputusan dan kehendak Allah. Bahwa Allah Tahu Yang Lebih Baik dan kita atau siapapun yang lain tidak lebih tahu dari Allah.

Sayangnya, kita seringkali mengkaitkan sifat itu dengan sebab. Kita sering berucap ‘mungkin dari allah begini..’ atau ‘mungkin dapetnya emang ini/jalannya begini..’.

Temanku, Tuhan kita itu Maha Tahu. Dan Dia Sang Maha Cahaya takkan pernah membiarkan kita dalam ketidaktahuan, menerka-nerka jalanNya dengan kata mungkin. Takkan pernah. Apabila kita mencari janjiNya Allah dengan sifatnya sebagai Yang Maha Tahu akibat dari pilihan yang kita ambil. Maka carilah sebabNya.

Carilah perintahnya yang tidak masuk di akal kita, tapi kita jalani saja karena memang Dia Yang Tau. Bukan kita, bukan logika kita, pengalaman, apalagi sekedar bayang-bayang lebih lagi rasa was-was (7:201).

Sebab bagi Musa ialah mengetukkan tongkat ke laut. Sebab bagi Ismail ialah menyerahkan nyawa tuk disembelih. Sebab bagi Ibrahim ialah meninggalkan istrinya Hajar dan Ismail di gurun yang tandus. Sebab bagi umat muhammad adalah berperang (yang kebanyakan dengan keluarga mereka sendiri) dengan logika sederhana kalah jumlah. Ya, sebabNya seringkali memang bertentangan dengan akal kita, akal manusia. Karena memang disitu pesanNya. Untuk mengakui (hanya) Allah Yang Maha Tahu. Kita tidak.

Bagi masing-masing kita akan ada momen, suatu fase hidup saat logika kita bersebrangan dengan sebabNya. Jangan ragu, pilih sebabNya saja bila sudah jelas apa yang jadi perintahNya.

Taukah kita mana pilihan yang lebih baik? Apapun yang Dia jelaskan, Ia perintahkan, lalu pada akhirnya Ia sebutkan Dia Maha Tahu. Itulah hal-hal yang pasti lebih baik. Carilah hal-hal tersebut di quran.

Apakah kita memang tahu kalau Allah Maha Tahu? Tugas kita untuk belajar mengetahuiNya. Untuk tahu apa yang sebenarnya Dia perintahkan. Karena takkan mungkin kita mengimani Dia Yang Maha Tahu akibat perintahnya baik, bila sebab (perintah) nya saja kita kait-kaitkan dengan ‘mungkin’ atau ‘bisa jadi’.

Yakinlah pada kepastian janjiNya Yang Maha Tahu. Sebelum itu, kenalilah janji-janjiNya Dia Yang Mengajarkan Lewat Kalam.

Allahua’lam.

Lebih Sederhana…

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Ada tiga hal, hentikan dengan tangan, lisan, lalu hati. Di bagian akhir disebutkan (untuk yang hanya hati) itulah selemah-lemahnya iman. Bila kita buat jadi keterangan umum. Menghentikan dengan kemungkaran dengan tangan, lisan dan hati itulah iman.

Agak aneh. Tangan dan lisan adalah anggota badan yang jelas geraknya. Sedangkan hati tersimpan dari indra. Namun, bila hati adalah iman, maka seharusnya hati adalah bagian yang kita pertanggungjawabkan. Artinya? Kita harus paham bahwa hati adalah bagian tubuh yang bisa kita gerakkan, sebagaimana tangan dan lisan.

Hanya saja.. tak semua manusia menyadari bahwa hatinya bisa digerakkan. Dibiarkan saja mengikuti dunia, nafsu. Menahun dizinkan hatinya lumpuh. Maka kawan, gerakkanlah.

“Menangislah kamu semua, dan bila kamu tidak dapat menangis maka paksakan menangis!”

(HR Ibnu Majah)

Dan ini bukan soal memilih antara tangan, lisan atau hati. Tapi memulai dari hati, mengakui dengan lisan, lalu menggerakkan tangan kita. Barulah jadi iman seutuhnya.

Tanpa hati, lisan dan tangan pun tiada arti.

Allahua’lam

Tak Memilih

Dikejar derap deru pasukan kerajaan
sedang langkah hanya teriring isak budak
Musa, dihadapkan pada laut

Diberi jiwa dan ilham yang begitu dalam
ancaman orang tua adat masyarakat  ia lawan
Ibrahim, tertawan lidah api

Ditinggal di padang tandus belasan tahun lamanya
Namun ayah pulang bukan tuk melepas rindu,
Ismail, diminta berserah nyawa

Dihadapkan pada juta-juta musuh
kumpulan ini hanya sedikit begitu terasing
Umat Muhammad, diminta berperang

Demi Pemilik Langit dan Bumi
Hati-hati yang ikhlas
Bahkan tak perlu memilih
Dan pada hati-hati yang dirindu
Bahkan Dia tak perlu berjanji

Karena namaNya saja
Jauh lebih menenangkan
dari apapun
setelah ‘nanti…’

Dan kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagaian yang lain. Maukah kamu bersabar? … (QS. Alfurqan, 25:20) Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; … (QS. Al Kahf, 28)

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As Saffat, 102)

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ


106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. QS As Saffat, 106

Bukan antara, cinta ini iman.

“Ya Rasulullah”, kata ‘Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.” Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.” “Ya Rasulullah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”

“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”

Di umur gue yang 20 tahunan ini, ada hal sederhana yang sebenernya sangat terkait atau bahkan jadi bagian akidah itu sendiri, tapi gue dan temen-temen masih sering miss: cinta. Well, ga cuma cinta sih.. kita masih belom ngeh kalau semua isi hati teh sebenernya bagian iman, misal…

Malu:

Dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah SAW lewat di hadapan seorang Ansar yang sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.’”

Takut:

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):175 – Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Khawatir & sedih:

Sapi Betina (Al-Baqarah):112 – (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati.

Keberanian dan rasa mampu:

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Bahkan, rasa suka:

Nabi Ibrahim (‘Ibrāhīm):3 – (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat… Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.

…hmm -_-a

Nah brosis, kalau menurut kalian apa jadinya kalau kita tau bahwa cinta, malu, takut, rasa suka, rasa mampu, berani, sedih, khawatir teh rupanya semuanya bagian dari iman? Atau malah bisa dibilang kalau perasaan = iman.

Kayanya ada beberapa hal yang harus kita inget dan pikirin:

  1. Perasaan(iman/cinta) itu ga bisa kita kontrol. Apa iya?
  2. Bagian-bagian perasaan yang mesti kita sampein ke orang laen, karena sama aja nyeritain keimanan kita. Gimana baiknya kita nyampeinnya?

Apa iya sih perlu dipikir segitunya? Kita coba cek satu-satu yok..

Perasaan ga bisa dikontrol (?)

Ya… iya juga. Lebih tepatnya bukan ga bisa dikontrol. Ada hal-hal yang udah Allah tetepin di hati. Yes, brosis. Meyakini bahwa:

a. perasaan itu dateng begitu aja

b. perasaan itu didatengin sama Allah

itu dua hal yang beda. Banget.

Keluarga ‘Imran (‘Āli `Imrān):14 – Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

See? Allah loh yang buat suka. Hhe Ibaratnya nih, kalau kita papasan gitu sama yang good looking di jalan (jangan lupa nunduk), just stop making excuses ‘ga tau kenapa’. At least jawab aja ‘karena Allah’. Udah.. hhe. Karena emang begitu adanya.

Namun hei hati, rasa suka yang dari Allah karena Allah pun belum tentu ke Allah. Maksudnya??? This:

Musyawarah (Ash-Shūraá):20 – Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Agak aneh ga? Kita dibuat suka sama hal-hal di dunia. Tapi justru ga boleh kita pengenin. Tau bedanya dimana antara suka dan ingin? Yes. Kita mungkin bisa ngedefinisiinnya masing-masing. Klo mnurut gue suka itu sekedar stimulus. Sedangkan ingin sudah masuk ke pengambilan keputusan. Suka itu wajar, ga bisa kita kontrol. Ingin atau mengakui menginginkan sesuatu udah buat kita harus berencana, berupaya, dan pada akhirnya untuk bertanggungjawab. Sinpelnya gini, gue suka biji salak sama gue pengen biji salak buat buka. Beda kan? Klo suka doang blom tentu gue beli.

Oh, terkait iman. Hati kita (mukmin wannabe) memang tidak diizinkan menginginkan dunia. Bukan berarti meninggalkan, tapi harus bisa liat ini semua cuma alat. Tujuannya cuma satu, akhirat. Inget, alat selalu menyesuaikan tujuan penggunaannya bukan sebaliknya.

Soal nyeritain perasaan

Nah, ini dia. Yang bagian kita sering miss. Ini penting lo brosis, kenapa?

Contoh aja nih, misal kita bilang kita takut ma dosen kita sama aja ngakuin kalau kita takut sama yg selaen Allah. Laen lagi, misal kalau kita bilang ga sanggup untuk suatu ibadah karena Dia, sama aja kita ngakuin sanggupnya kita pun bukan karena Dia. Atau misal kalau kita bilang ‘cinta’, itu masuk bagian dunia atau akhiratNya?

Yes, sebelum kita nyeritain perasaan ada baiknya kita kenalin dulu bentuknya. Well, sebelumnya kita mesti ngeh dulu ‘rasa’ dan ‘perasaan’ itu ga sama. Heh? Iyaa. Rasa teh kaya manis, asam, asin, seneng, kesel, sedih.. rasa itu stimulus. Sedangkan perasaan itu response atas stimulus-stimulus. Semisal cinta, sayang, berani, yakin.. coba dipikir kita ada proses mikir dulu kan baru bisa ngomong itu? Walaupun mikirnya pake snap judgement yang sepersekian detik.

Rasa datang dr luar, dan memang diluar kontrol kita. Perasaan, sebagai response datang dr dalem diri kita sendiri. Seringnya auto memang, misal manis langsung suka. Tapi kita selaku punya pilihan untuk kita tuning perasaan kita atau kita latih. Contoh: cowo yang penakut, klo latihan juga bisa jadi prajurit. Atau mereka yg ninggalin musik/riba/dunia karena Allah itupun karena hati yang mereka pilih untuk dilatih. Dan insya Allah bisa. Dasar kita sanggup kan Allah.. (penulis pun masih latihan, jauh.. wkwk).

Nah, dengan mengetahui sejatinya perasaan adalah pilihan dan berkaitan dengan iman, kita harus aware atas perasaan yang kita akuin. Layaknya iman, ga akan bener jadi iman klo ga diakuin, pun ga valid klo ga ada wujud tindakannya. Begitu juga cinta, takut dan yakin.. ga akan ada perasaan(iman) itu kalau ga diakuin, dan ga akan valid kalau ga bener dijalanin. Beda sama ‘rasa’ yang sekedar stimulus kan?

In the end

Gue ga mau buat kesimpulan, langsung baca ini aja:

“Ya Rasulullah”, kata ‘Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”

Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“Ya Rasulullah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”

“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”

Bandingin dengan…

Seorang sahabat telah datang menjumpai Rasulullah saw. lalu berkata, “Ya Rasulullah, aku mencintai engkau.”

Nabi saw. bersabda, “Pikirkan dahulu apa yang engkau katakan.” Tetapi orang itu berkata lagi, “Aku mencintai engkau, ya Rasulullah.” Nabi saw. bersabda seperti tadi, setelah tiga kali orang itu’ berkata demikian, akhirnya Nabi saw. bersabda,

“Baiklah, apabila engkau tulus dalam perkataanmu ini, maka bersiaplah menghadapi kefakiran yang akan menimpamu dari segala arah. Karena kefakiran akan datang dengan cepat kepada orang-orang yang mencintaiku sebagaimana air terjun yang mengalir.”

Liat, beda kan? Buat Umar Rasul ga nanya-nanya lagi. Dikasih tau, Umar nurut ubah pengakuannya, Rasulullah langsung ngebenerin. Umar, isi hatinya, lisannya, tindakannya udah bener-bener sejalan. Itulah perasaan. Begitulah semestinya iman. Bukan jadi bagian yang kita simpan-simpan. Tapi kita akui, kita jalanin dan siap kita pertanggungjawabin.

Allahua’lam.

Nextnya… mari bahas pengakuan cinta dan dasar hati. Insya Allah..

Hijrah (?)

03/06/2018
11:40 AM
Jakarta,

Pemuda itu kembali menengok,
pada sisi waktu indah yang retak
di balik jam dinding yang berdetak
“24 tahun” sebutnya lirih dalam dada

Sementara jam dinding hanya menyahut
dengan detak-detaknya yang dingin

“Hati, hati… kau tau?
waktu adalah teman setia yang takkan pernah berkhianat
dan musuh paling gigih dengan janjinya untuk membunuh
sementara aku tau, kau bahkan tak siap bertemu dengannya
Namun, bagaimana kau lari darinya yang selalu merangkulmu?”

Waktu pun sejatinya sesuatu yang fana
se-fana naga dalam buku cerita bergambar
se-fana suara hati yang hanya jadi kata-kata

24 tahun, langkahmu mana?
Butuh berapa puluh lagi kau habiskan,
hanya sekedar untuk ‘yakin’?

Kau tahu, hai jiwa?
Yakin (hijrah) bukan pada lisan,
ia terwujud dalam langkah
sekalipun bagi kaki yang terseret
atau tubuh yang terseok

Namun, itu pun jauh
Jauh lebih baik
Dari langkah-langkah tegap
manusia tanpa arah

 

Note: 12 Mei 2018 – Jakartaku

Hai sahabat,

Andai kau tahu seberapa ingin aku memiliki senja. Mungkin bisa jadi pengingat kau saat pulang bahwa rumah selalu ada. Dan jadi semangat pagimu esoknya lagi karena rumah selalu menanti.

Andai kau tahu seberapa ingin aku punya rembulan malam. Mungkin bisa jadi penenang risaumu saat pikiran begitu sesak. Atau bisa jadi teman bicara yang buatmu tertawa dalam sunyi senyap.

Andai kau tau seberapa ingin di hadapanmu kuperlihatkan laut. Sekedar agar kau merasa lepas, bebas. Tanpa harus merisaukan tanyaku adakah namaku di matamu. Karena sungguh, tak pernah sekalipun aku mempertanyakan itu.

Andai kau tau seberapa ingin di hadapanmu aku selepas langit. Hanya diam saja, mengantar mentari pagi, terkadang hujan, mewarna senja, sekedar menghitam saat malam. Jadi hal yang tak perlu kau ceritakan. Namun kau tau bagaimanapun harimu, kau selalu mengenaliku yang kan menerimamu apa adanya.

Andai kau tau, seberapa ingin aku memilikimu. Tapi aku tau itu bagian egoku. Kecuali memang kau yang ingin begitu. Dan hanya jika dengan itu kau bisa menikmati senja, rembulan, langit dan laut apa adanya. Bukan memiliki, jauh lebih dari itu. Aku jauh lebih ingin mendapatimu tersenyum lepas. Dan takkan rela bila harus kau tahan. Apalagi bila sekedar karenaku.

Andai kau tau seberapa ingin aku memiliki semua itu. Tapi aku siapa? Kan semua punyaNya. Dan seyakinku, apapun dariNya pastilah ditempatkan di tempat paling asik dengan cara yang paling baik. Begitu pula apa-apa yang ia tempatkan dalam hatiku. Hai sahabat, apapun yang terjadi, Tuhanku hanya meninggalkan pelangi dan teduh embun disini. Sesederhana pemahaman, seharga kesyukuran. Maka sungguh, takkan pernah ada yang perlu kau khawatirkan padaku.

Andai aku tau bagaimana ku ingin ceritakan semuanya saja, kulepas saja, kuungkapkan saja. Tapi hai sahabatku, biarlah tiap sudut hatimu penuh kata-kata dan janji yang disukaiNya saja. Jujur pada hati kita pun takkan pernah ada arti, bila tak jujur padaNya.

Hai sahabat. Terima kasih, sudah begitu banyak mengajariku rasa ingin.

Sampai kumengerti yang memang kuinginkan: menjagamu.

Perasaan ini – Ar Rum:21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir – Ar Rum – 21

Assalamualaikum, brosist
Apa kabar? Semoga baik

Belakangan entah kenapa gue ketemu temen-temen yang banyak cerita terkait ‘pasangan hidup’. Entah itu masalah cara ngejalanin lah, soal calon lah, soal yang mau nikah (lagi) lah, dan lain-lain. Di umur mendekati quarter life crisis ini kayanya curhatan terkait pasangan hidup gitu bakal makin subur, berbanding lurus dengan kiriman undangan di tiap akhir minggu.

Oh ya, btw. Setelah sekian lama ga nulis, gue mutusin buat nulis lagi. Bahasa lebih lepas, dibuat lebih gampang juga. Niatannya, biar blog ini lebih gampang dibaca dan kerasa lebih kaya ngobrol aja gitu. Gue mau ngingetin aja, gue sengaja bahas soal Islam di blog ini tapi isinya ga bakal kaya kebanyakan kalian temuin di gugel. Gue bukan ustad, bukan anak pondok cuma seorang muslim, yang kadang mikirin maksud Tuhan gue apa melakukan semua ini. Gue yakin, Dia Maha Baik dan Guru Terbaik itu Dia, bukan pengalaman. Maka gue hanya berusaha belajar seasik mungkin. Cukuplah, sekolah kita aja yang kurikulumnya hafalan, agama kita jangan. Pemahaman, itu wajib. Ya ga sih?

Nah, balik lagi…
Soal Ar Rum:21 nih. Kalian pernah kepikiran ga sih, maksud ayat ini apa? Kenapa rasa tenang sama pasangan gitu bisa jadi ayatNya dan kenapa harus dipikir dulu? I mean rasa yang sama, jatuh cinta, bisa jadi alasan orang buat ngelupain Tuhan loh. Ya ga sih? Eh, atau jangan-jangan rasanya ini beda?

Bisa jadi beda…

Hmm.. Bisa jadi beda rasanya brosist. Cekidot:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baikAl Imran 14

See? Ada rasa ‘cinta’ pada apa yang diingini. Termasuk pula itu pasangan hidup (wanita). Hal yang unik brosist, disebut kalau itu bagian kesenengan hidup di dunia. Yes, di dunia. Sedang di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Indikasinya? Dunia itu bukan tempat kembali yang baik buat kita. Termasuk pula rasa indah di pandangan dan cinta pada wanita, dll itu.

Terus? Ada lanjutannya

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Al – Imran 15

Cek ayat ini. Ayat ini nyeritain lebih rinci tentang penawaran yang lebih baik dari hal-hal duniawi tadi. Dari semua bagian duniawi yang disebut di ayat sebelumnya (14) ada satu hal yang disebut lagi loh, brosist. Ini: istri-istri. See? Di 14 disebut wanita-wanita, dan di 15 disebut istri-istri. Kita sedang bicara hal yang sama tapi kenapa satunya sekedar di dunia, kenapa satunya di surga?

Kalau kita cek, kata yang dipake untuk nyebut ‘wanita-wanita’ di ayat ke-14 ternyata beda dengan yang dipake di ayat ke-15 untuk nyebut ‘istri-istri’. Di ayat ke-14 kata yang dipake adalah النِّسَاءِ (Nisa’) sedangkan di ayat ke-15 kata yang dipake adalah أَزْوَاجٌ (Azwaja). Nisa lebih merujuk pada bentuk objek (wanita, perempuan). Sedangkan azwaja lebih merujuk pada peran (pasangan) – coba cek juga di An Naba (78:8). Dan kalian tau brosist? Kata yang dipake di Ar Rum 21 adalah azwaja bukan nisa’. Yang sedang disampaikan di Ar Rum – 21 bukan sekedar soal ‘rasa suka’ pada lawan jenis tapi ‘rasa anu‘ ke soulmate, pasangan hidup. Rasa anu yang gimana?

Siapa penemu ‘jatuh cinta’? Dimana?

Yes, untuk mengklarifikasi ‘jatuh cinta’ atau rasa anu ini mari kita cek ke manusia pertama, Adam. Yup, Adam adalah manusia pertama dalam keyakinan kita, kapan pertama kali ia jatuh cinta?

Here: Di Surga

Yes, di surga. Adam ketemu Hawa sebelum ia turun ke Bumi. Itu unik banget. ‘Istri’ dalam janjiNya tentang ‘tempat kembali yang baik’ di Al Imran ke-15 pun cerita tentang isi surga. Artinya? Ar Rum 21 itu hei kawan, bercerita tentang sebuah perasaan yang memang manusia pernah alami di surga, dan janjiNya akan manusia rasakan lagi di tempat kembali yang baik (surga) kelak.

Merindingnya nih disini…

Eh, gue ga tau kalo kalian ya. Tapi gue sih merinding.

Gaes, kalian kebayang ga kalau misalkan sebagian ‘rasa surga’ itu ternyata bisa kita rasain di dunia, pas masih hidup? Yes, perasaan Adam ke Hawa pas di surga itu sama persis dengan perasaan Adam ke Hawa pas di Bumi. Dan azwaja (pasangan) yang diciptakan dari diri sendiri di Ar Rum 21 itu, jelas dalam definisi Adam maksudnya Hawa – adalah azwaja (pasangan) juga yang Allah janjikan di Al Imran ke-15.

Yes, gue tanyain sekali lagi. Gimana kalau ternyata sebagian perasaan di surga nanti, memang bisa kita rasain disini, di dunia? Sama pasangan kita? Dan rasanya sama?

Buktinya kalau Adam sayang ke Hawa…

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.Al A’raf – 23

Gue baru ngeh kalau pas doa pertama di bumi, doanya Adam waktu itu ga sendirian. Bukannya gimana, gue sering doa pake doanya Adam gini, ya gampang diinget terus pas aja banyak dosa. Wkwk. Tapi eh tapi, gue belum bisa bener-bener nyontoh doanya Adam. Kenapa?

Pertama, Adam ga doa sendirian. Dia doa berdua dengan Hawa. Kedua, dia ga doa buat dirinya sendiri, dia juga ngedoain Hawa. Ketiga, Adam juga di doain sama Hawa. Yes, doa pertama di Bumi oleh umat manusia adalah doa yang dilakukan berdua, sama-sama berdoa dan saling mendoakan. Allah memang Maha Romantis. So gaes, find yourself pasangan yang bisa diajak doa bareng, mau ngedoain dan mau kalian doain. Supaya cinta itu memang jatuh dari surga dan diizinin buat balik ke surga lagi…

Ujung-ujungnya…

Ng… Gue bingung kalo nulis gini harus ada kesimpulan. Well, fyi aja perlu kita inget kalau rasa di surga itu bakal sama dengan rasa yang kita rasain disini. Kalau ‘rasa’nya malah ga mau kita bawa ke surga? Di surga malah ngarepnya sama yang laen? wkwk, nah itu.. gue ga tau. PR kali ya? sok dibenerin aja rasanya atau cara mensyukurinya atau cara mengenaliNya.

Ga kepikir aja. Kalau memang perasaan itu perasaan yang sama yang bakal kita rasain di surga, gimana dengan kita yang hidup di bumi tapi ga ngehargain perasaan itu. Apa kita bakal bisa ngerasaiinya di surga? Dengan harap-harap menanti perasaan yang belom pernah dirasain lantas ga begitu niat buat bawa yang sama kita di bumi buat ke surga nanti? Allah Yang Tau.

Eh, sekali lagi ini bukan kesimpulan. Pan dah gue bilang ini nulis kaya ngobrol aja. wkwk. Wes, semoga ada manfaatnya. Kalo gue salah tolong jangan males benerin yak. Itu bisa comment atau email. Santai aja. Makasih.

Tambahan dikit…

Eh, kata azwaja juga dipake buat ke kaum sodom Iya, gay. Saat mereka ditanya ‘kenapa laki-laki, kenapa ga azwaja yang Allah ciptain buat kalian aja?’. Kenapa bukan nisa’ kata yang dipake? Yes, secara ga langsung dikasih tau kalau kaum sodom itu bukan sekedar soal laki-laki atau wanitanya. Tapi juga tentang ‘pasangan hidup’nya. Pertanyaannya yang sama ke mereka tuh bisa ditanyain kaya gini juga: ‘Kenapa kalian cuma cari enak di dunia dari laki-laki? Kenapa kalian ga sama pasangan yang sudah dikasih – untuk jatuh cinta dengan hati, bukan hanya nafsu?’. Allahua’lam.

Jakarta, Mei 2018

Blog di WordPress.com.

Atas ↑