Note: 25 Apr 2018 – Langit Biru April

Hai, Langit Biru Bulan April
Apa kabar?

Belakangan ini aku bertemu teman yang sedikit aneh
Aku tak mengerti kenapa ia bisa menyematkanmu yang begitu teduh
padaku yang suram dan begitu kelabu…

Hai langit, kalau boleh aku meminta tolong sedikit
Bolehkah kau dekap dia dalam birumu?
dekap pula dengan hitam malam, rona senja,
sendu fajar, dan teduh abu hujanmu
dekap dengan semua warnamu, hai langit
sampaikan juga semua pesanmu,
yang pernah kau turunkan, padanya langsung
ajari semua yang pernah kau ajarkan
dengan pemahaman yang lebih dalam
dengan cara-cara yang lebih baik
dan bijak yang lebih santun
Dan entah hai langit, bicaraku seperti ini
padahal bisa jadi kau jauh lebih dekat dengannya

bagaimanapun aku nanti, jadi warna apapun baginya
tolong, jadilah teman akrabnya
jagalah dia sebagaimana kau menjagaku
dengan penjagaan yang lebih lembut
temani dia sebagaimana kau antarkan angin sore
hibur dengan gemerisik dedaunan atau rintik hujan
perlihatkan dia semua janji Pemilikmu
kuatkan hatinya dengan hati-hati yang tak terpasung di Bumi

Dan hujan-hujanmu,
jangan sampai turun dari matanya
Dan Pemilikmu serta semua indah janjiNya
tolong ingatkan padanya tanpa henti, setiap hari
Karena memang itu hai Langit,
alasanku menulis ini

Tak pernah ada berat bagiku
bila kelak warna dan namaku ia lupa
karena bagiku untuknya
hanya ada rasa ingin menjaga dan rela

Namun, bila hatiku jujur
Sungguh, hanya Pemilikmu
Yang Bisa

Terima kasih, hai langit April
untuk selalu jadi teman yang baik.

Iklan

Note: Sebuah permintaan, secuil pemahaman

Hei, kau tau?

Dulu ada seorang teman yang bercerita. Bahwa dia tak pernah tertarik menginginkan apapun dari dunia. Kecuali satu. Ia hanya ingin memiliki seseorang yang menginginkannya. Sesederhana ada yang memang mensyukuri keberadaannya.

Kau tau? Dulu, ia sama sekali tak pernah menuliskan atau menceritakan keinginannya pada dunia, siapapun. Karena menurutnya bila manusia lain tau, mereka hanya akan mengasihani. Bukan benar-benar menginginkan kehadirannya.

Hatinya terpenjara oleh pemikiran yang sempit.

Sampai akhirnya langit mengajari hal sederhana. Bahwa berharap pada manusia memang sia-sia. Ya kawan, tapi bukan dalam pemahaman yang seperti itu. Dalam diam mu, kau berharap ada yang mengetuk. Baiklah kalau begitu harapan benar-benar kuhapuskan. Bukan pula begitu. Kalau begitu, dalam keputusasaanmu kau lupa dengan Tuhan.

Aih, lalu bagaimana langit?

Sederhana kawan. Manusia lain tau tidak tau tak pernah jadi hal yang penting. Sama sekali. Kau teriak saja pada semua. Manusia tak pernah punya kuasa atas hati. Atas ujiannya. Kau tau? Kalau Dia tak ingin, mau seluruh manusia mengupayakan satu saja hati yang benar-benar untukmu saja takkan bisa. Mustahil. Sebalikya kalau dia ingin, mau kau tolak pun akan datang menobrak pintu dan dinding-dindingmu sekalian semuanya.

Kawan, jangan pernah ragu meminta padaNya. Manusia tau tak tau takkan merubah takdirmu. Mau kau upayakan bagaimanapun. Hanya Dia Sang Pemegang kunci semua pintu hati. Pinta saja.

Bagaimanapun, setidaknya itu jadi pengakuanmu: bahwa kau tak sanggup. Dan apapun baginya mudah, terlalu mudah.

Bagaimanapun kau memperlakukan harapanmu, hai hati yang merindu langit, lepaskan saja padaNya. Bukan pada keputusasaan apalagi harapan sandaran-sandaran fana.

Semoga kepulanganmu baik, hai teman yang diturunkan untuk hidup.

Note: awal fase.

Jakarta Timur, 6 April 2017

Hai langit April,

Kau masih selalu mengingatkan: Tuhan selalu baik. Tulisan-tulisan yang pernah kita baca, lalu dieja ulang di kertas atau papan ketik, seringkali jadi ujian untuk kita sendiri. Katamu, tenang saja. Hidup itu memang antara ujian atau kelalaian, dan ini bukan soal keangkuhan hati. Dan angin menambahkan ‘hanya tentang pemilikku Yang Ingin Dekat’. Ya, kami hanya bisa tersenyum, mensyukuri es kopi yang tidak terlalu manis di pinggir jalan ini. Mengingat bahwa lisan masih hidup di antara kata-kata yang buat orang lain bertanya-tanya.

Omong-omong soal tanya, hai langit. Ada seorang teman yang unik kalau tak mau kusebut aneh. Aku ingin tau apa dia mengerti…

Angin hanyalah angin. Ini tak pernah jadi soal kemana arahnya bertiup. Tapi relakah, Sang Daun, untuk gugur?

Lalu langit, bagaimana? Kalau kali ini, aku tak rela? Boleh kupinta angin yang lebih kencang? Atau mungkin serintik hujan yang hilangkan bingar?…

Dan langit, seperti pesanmu setiap hari pada hati. Andai aku mengerti, bahwa setiap doa dijawab lebih mudah dan pasti disajikan lebih nikmat dari setiap cangkir kopi yang kupesan di pinggir jalan. Syukurku saja yang entah dimana.

Hai dedaunan, bantu kami ingat.

Note (7:23) – Kurikulum Adam

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan mencipatakan manusia dari tanah” (38:71).

Lalu kurikulum Adam sebagai manusia pun dimulai. Adam memulai kurikulum sesuai dengan penciptaannya, untuk beribadah (51:56), dan ibadah pertama adam adalah belajar dan berpikir.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya,… (2:31).

Tapi kurikulum Adam, sebagai seorang manusia dan khalifah, tak selesai di surga.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (2:35 – 36).

Sebuah pertanyaan, kenapa Adam yang diciptakan di surga untuk jadi khalifah di Bumi, harus digelincirkan syaitan terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas.

Ingatlah ketika Tuhanmu berifrman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (2:30).

Ada nama, yang tidak diajarkan pada Adam di surga, dan baru sepenuhnya Adam pahami dan dapat mengerti saat ia turun ke Bumi.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (2:37).

Adam tak akan pernah benar-benar mengerti dan mengenali, atau mungkin mendengar Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang saat ia di surga. Karena malaikat tak akan pernah berbuat dosa, sedang iblis tak akan bertaubat.


Setelah melakukan dosa, tergelincir ke bumi, bertaubat, lalu diampuni baru lengkaplah kurikulum Adam sebagai seorang manusia. Adam sudah mengenali Tuhannya sebagai Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Pun ia juga telah mengenali dirinya sendiri sebagai manusia yang hakikatnya melakukan dosa.

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (2:286)

Yang manakah ujian sebenarnya bagi Adam?
Untuk tidak memakan buah khuldi,
ataukah untuk bertaubat setelahnya?

Tuhan berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (2:30).