Potong Kambing Itu Soal ‘Customer Social Responsibility’, lah?

Mungkin tidak banyak dari kita yang tahu bahwa tiga hari kurang dari penyerangan paris pada November 2015 lalu, Europe Union (EU) membulatkan keputusan untuk melabel produk Israel yang diproduksi di daerah ‘pendudukan’ Palestina sebagai ilegal. Ya, pelarangan itu diluncurkan pada tanggal 10, lalu penyerangan di paris terjadi tepat pada tanggal 13. Kebetulan yang pas kalau menurut saya. Itu ‘teroris’ kayanya agak tolol milih tanggal buat branding aksinya. Yah, terlepas dari siapapun yang aksi dan milih tanggalnya, sih. Maaf.

Wes, sebenernya isu itu juga bukan isu yang baru. Dari 2014, EU juga udah ngebahas soal isu ini. Pelarangan pada akhir tahun 2015 itu tentu mempengaruhi sales produk israel. Katanya sih kecil, cuman kurang dari 5% gitu. Tapi dampak dari keputusan ini terhadap pasar yang mengkhawatirkan mereka. Bayangkan kalau negara-negara berkembang (major market) mereka sadar dan berani gitu juga karena punya figur EU sebagai tameng, atau ngejadiin sikap itu sebagai tren.

Produk-produk israel yang berkendala ini pun tidaklah kecil cakupan marketnya. Mulai dari soda, kosmetik, gadget, bahkan sampai daleman mungkin ada. Salah satu yang paling kita sering temui mungkin soda yang dipajang di dalem kotak merah di minimarket itu. Iya, yang itu. Yang kalau di dalem negri jotos-jotosan sama teh botol sosro, sampe ngeluarin produk teh sendiri buat ngambil marketnya. Sosro bales lagi ngeluarin teh bersoda buat ngambil market yang diambil tadi lagi. 

Entah, nulis ini saya jadi kepikiran. Jangan-jangan Inggris sebagai pionir EU ngeluarin BIG karena kesel juga sama soda satu ini. Seenaknya masarin kebebasan dari tanah jajahan, makanya diserang pake soda harga bantingan. Atau mungkin juga sekedar untuk keperluan komersil EU di negara berkembang? Entahlah. Toh, komersialisasi dan nilai yang diyakini pada dasarnya selalu berjalan beriringan. Dengan uang sebagau penunjuk jalan tentunya, ehe.. 

Setau saya pada akhirnya EU melepas label ‘haram’ atau ‘illegal’ pada produk-produk israel itu. Sayangnya untuk yang ini saya belum ketemu berita terbitnya. Dari berita rilis, Jan’16 lalu EU masih kekeuh nge’ban‘ produk israel.

Di Indonesia

Kalau kita sadari, kita ini hidup di negara yang keren. Uyey. Iyalah, negara mana yang bisa jadiin kalimat “…karena itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan..” sebagai dasar negaranya selain kita? Di saat negara lain, mungkin yang adidaya itu menjadikan kemerdekaan, kebebasan, sebagai tujuan akhir, bentuk akhir ideal, kita tidak. Kita adalah bangsa yang merdekanya merupakan alasan kita untuk menghapuskan penjajahan dari muka bumi, untuk selamanya atas nama kemanusiaan dan keadilan. Jujur, untuk yang satu ini saya beneran bangga jadi rakyat Indonesia.

Sayangnya, isu larangan produk israel di negara kita ini terperosok dalam kacamata rasisme agama. Islam, saya sebutkan langsung saja. Ya, pendekatan pelarangan dimulai dari frase sendu saudara-saudara kita yang dibunuh dan sayangnya seringkali berakhir pada pernyataan (sok) bijak ‘bukan masalah dari siapa, tapi apa yang dibeli dan bagaimana membelinya’ atau ‘jangan begitu, ada kebutuhan orang lain disana’. Ya, yang ngebahas itu seperti itu juga paling orang-orang muslim lagi, dengan cara seperti itu lagi. Gitu-gitu aja.

Mayoritas EU disana, kalau boleh kalian tanya langsung satu-satu, mungkin seorang ateis. Mereka tak perlu basa-basi agama hanya untuk melabelisasi sebotol soda atau selapis sempak. Toh, bukti nyata di depan mata. Konsekuensinya, konsumen mereka harus sadar apa yang mereka beli lalu keuntungan pembeliannya akan berdampak apa. Labeli saja ‘illegal’, tetap mau masukkan di toko, silakan. Kalau disini ‘illegal’ tadi mungkin tulisannya bakal berubah jadi pake huruf arab, terus ada tulisan by ulama. Sudah jadi kebiasaan kita, untuk mentok di agama. Ckck..

Perkara kambing

Dari soda kita nyambung ke kambing… 

Ya, soal kambing ini tentulah banyak yang sudah menyampaikan faedahnya. Tentang kerelaan, keikhlasan, dan perayaan. Dari tatap mata tulus seekor kambing kita mungkin mengingat kerelaan seorang anak untuk dikurbankan, kerelaan seorang ayah untuk mengurbankan, kerelaan seorang istri untuk ditinggalkan di sebuah padang gurun, kerelaan seorang suami untuk meninggalkan yang tersayang walau hati tersayat, kerelaan seorang ibu untuk menapaki berbukitan gersang demi seteguk air, dan sifat Tuhan Yang Maha Mensyukuri. Pikirkan saja, bagaimana Ia memilih kata ‘kurban’ untuk kita, padahal yang kita berikan memang cuma milikNya. Sedari mula, kita berkorban apa?

Terlepas dari faedah keagamaan itu, mari kita pahami sisi duniawi seekor kambing. Ya, kambing itu dibeli lalu dipotong hanya untuk dibagi-bagi. Bayangkan, betapa asiknya. Terlepas asik itu saat mendengar nama pemberi kurban di TOA masjid atau memang sekedar dari senyum tetangga. Bayangkan, kalau pengeluaran kita sepenuhnya bisa digunakan untuk membeli yang seperti kambing tadi. Setidaknya untuk keluarga. Ya, bayangkan kalau kita menegluarkan uang hanya untuk yang bisa bagi-bagi setiap hari.

Tanggung jawab

Antara kambing dan soda ini ada sesuatu. Bukan soal komplikasi kolesterol dan kandungan gula yang tinggi, bukan. Tapi tanggung jawab. Ya, perhitungan pertanggungjawaban pembeli saat memutuskan membeli sesuatu tidak berakhir hanya pada tahap konsumsi. Itu yang diajarkan seekor kambing pada kita. Bahwa ada orang-orang yang berbahagia atas pengorbanannya, atas pengeluaran yang kita lakukan. Lalu bagaimana dengan sebotol soda? Tegakah kita membeli sesuatu sekedar karena haus, lantas keuntungannya ditabung untuk jadi peluru lalu dilepas ke kepala seorang ayah, atau diakumulasi untuk jadi rudal lantas diluncurkan ke suatu sekolah?

Sebagai seorang pembeli, sudahkah kita memikirkan dampak dari pembelian-pembelian (pengeluaran) yang kita lakukan?

Pengeluaran itu ketakwaan

This is the Book about which there is no doubt, a guidance for those conscious of Allah (muttaqeen). Who believe in the unseen, establish prayer, and spend out of what We have provided for them, (Al Baqara (2); 2-3)

Kalau kita baca di translasi Bahasa Indonesia, kita akan menemukan frase ‘mereka yang bertakwa’ dan ‘menafkahkan (sebagian) rizki yang kami berikan kepada mereka’. Saya ga tau kenapa ada ‘(sebagian)’nya itu. Kok nanggung, gitu. Ah, saya mungkin yang kurang paham. Maklumlah, saya belum bisa bahasa arab.

Dari kutipan di atas, dapat dipahami bahwa pengeluaran seorang yang mengimani Alquran terkait dengan ketakwaannya. Sementara para ateis sekedar menyadari bahwa pengeluaran mereka memiliki dampak sosial. Menjadi suatu kontradiksi, apabila bangsa yang mayoritasnya ingin menjadi bertakwa malah tertinggal dalam kebijaksanaan konsumsi dari mereka yang sekedar menyadari tanggung jawab sosial.

Entahlah, saya jadi terpikir. Saat negara ini membahas pemboykotan produk israel atas nama agama, rasa-rasanya bisa jadi tiap muslim hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang dibahas adalah konsekuensi pembelian atas surga-nerakanya sendiri nanti, etis tidaknya mereka di mata manusia lain sekarang. Egoisme atas nama tuhan. 

Sementara para ateis nan jauh disana saat membahas labelling ilegal produk israel mungkin sedang memikirkan nasib mereka yang tertindas. Tentang mereka yang di tempat kuliahnya harus melihat teman tertembak, di rumahnya harus rela keluarga diculik, di masjidnya pemuda tidak boleh masuk, di kotanya air dan listrik tidak mengalir. Kepedulian atas nama kemanusiaan.

Entahlah, mungkin kita saja yang salah memahami ‘takwa’. Kita kira ‘takwa’ itu gelar, label. Lantas kita jadi egois. Padahal bisa jadi ‘takwa’ itu sebuah job, tugas, peran.

Ied di Indonesia ini tentu meriah. Namun apakah kemeriahan ini cukup untuk menganggap masalah saudara yang semestinya merayakan dengan kemeriahan yang sama dengan kita ini tidak ada? Entah lagi, saya kurang tahu.

Satu momen yang membuat saya menyungging senyum. Saat membuka email ada tawaran dari change.org dan kitabisa.com untuk berkurban sampai ke pelosok Indonesia, bahkan bisa sampai ke palestina. Ya, saya melihat nominalnya. Tidak terlalu mahal, sungguh. Sayang dengan kondisi saya yang sekarang tombol ‘kirimkan kurban’ itu tidak bisa saya klik. Maafkan.

Rahasia kecil

Ada sebuah rahasia kecil. Berbagai platform media sosial memudahkan kita untuk berinteraksi dengan dunia luar. Instagram, sebut saja itu. Platform ini menganut algoritma cherry-picking yang sadis, preferensi kita dibaca berdasarkan view dan durasi saat melihat suatu post, tidak harus sampai like. Jadi kalau mau kepo aktivitas sebenarnya mata suatu manusia di ig, silakan intip mayoritas konten jendela explore mereka. Serius, itu yang sebenarnya mereka sering liat, wkwk.. Well, platform ini sendiri banyak menghadirkan pos-pos yang membahas aneka isu. Silakan kalian cari mereka yang membahas isu palestin, atau mungkin sudut-sudut dunia lain yang di-mute-kan. Insya allah di ig ada. 

Apabila kita bisa melayani partisipan suatu pos itu dalam berbahasa, jangan sekedar comment atau like. Cari akun yang profilnya sesuai dengan kalian. Lalu silakan ajak ngobrol, via DM. Kalian mungkin akan terkejut seberapa responsifnya mereka. Silakan bicara langsung, tanyakan apa yang kalian ingin tahu. Tambah teman. Salah satu yang saya temukan adalah fatima, seorang 19 tahun yang kuliah di yerusalem, hanya untuk mendengar benar bahwa anak muda tidak bisa solat di Al-Aqsa dan kabar teman kampusnya yang tertembak tadi. Kalau kalian bosen dengan inputan manusia sini yang gitu-gitu aja, bolehlah nyoba-nyoba ngobrol dengan mereka yang dunianya ga kebayang lagi untuk jadi seperti kita disini.

Simpul-kan

Uwes, lepas dari ied ini. Mari kita ingat bahwa kurban mengajarkan untuk menjadi selfless, ga ego. Bukan soal kita. Bukan soal kita pake baju apa, makan apa, tapi apa yang kita lepaskan. Serela apa kita melepaskan. 

Lalu inget pengeluaran kita itu ntar ujungnya dipake buat apa. Itu penting. Kalau mau mentingin perkara takwanya ya silakan. Kalau mau mentingin tren global dalam bertanggung jawab sosial ya juga silakan. Yang jelas, penting untuk manusia menggunakan otak dan uangnya dengan benar dan baik. Itu jelas.

Wes, sebelumnya maaf kalau saya nggak ngasih link-link bacaan terkait. Silakan kalian cari tau sendiri, gampang kok nyari di gugel. Saya saranin pake bahasa inggris. Kalo bahasa kita.. Ya.. Tau sendirilah.

Saya tau banyak yang bakal males. Di saat yang sama, saya tau kalau ada yang sampe nyari berita itu, ia sudah dipastikan (insya allah) seorang influencer, yang dengan caranya sendiri akan mempengaruhi orang lain setelah mengetahui infonya. Di situ saya berhasil. Wk

Wes, salam dan..

Selamat menikmati.

Oh, maaf. Lupa. Saya dan keluarga di rumah ga beli dari kompeni soda itu lagi. Well, ga cuma perusahaan itu aja sebenernya, tapi ambil aja jadi contoh. Ciao

Iklan