#2 Tentang Cinta: Unframe Your Heart. bag.1

Assalamualaikum, kawan

Saya seorang pemuda 23 tahun dan tulisan ini akan menyampaikan perjalanan makna tentang ‘cinta’ yang sudah saya jalani sampai detik saya selesai menulis pos ini.

Saya ga jamin perjalanan saya asik dibaca, tapi insya Allah beda dari yang selama ini kamu pernah tau dan semoga bisa dapet satu dua pesan yang buat “oh, rupanya ga cuman kaya gitu…”. Soalnya perjalanan ini isinya bukan tentang cerita saya sendiri.

Well, pada mulanya itu.. begini..

23 tahun tentang cinta, apa yang kalian bayangkan?


1988, waktu itu Ibu saya juga berumur 23 tahun.

“Kalau sampai bulan Februari ini kamu tidak lamar anak saya, akan saya nikahkan ia dengan yang lain” 

pesan Mbah (ayahnya Ibu) pada Bapak saya waktu itu.

“Kalau kamu belum wisuda, Ayah tidak akan biayai pernikahan kamu”

pesan Kakek (ayahnya Bapak) untuk Bapak. Bapak saya sendiri pun sewaktu itu sedang menyelesaikan pascasarjananya di UI. Sedari awal juga tidak dibiayai Kakek hidupnya, kuliahnya ia biayai sendiri. Satu dua dari sambilan dan mengajar, tiga empat dari kampus dan beasiswa.

Mendapat tantangan ultimatum seperti itu, keputusan yang Bapak saya ambil: lanjut, jalan. Ia temui Mbah untuk melamar Ibu saya. Dengan kondisi ayah saya yang belum punya apa-apa, keputusan yang Ibu saya ambil: terima lanjut, jalan. Mendapat jawaban ‘lanjut’, Mbah mengizinkan untuk menjalani keputusan mereka, Mbah menerima lamaran Bapak dan Kakek tetap dengan keputusannya untuk tidak menyokong biaya-biaya yang Bapak saya butuhkan. Ayah saya, hai kawan, melamar wanita yang kelak saya panggil Mama itu hanya dengan tabungan beasiswanya. Jangan tanya berapa, kata Bapak itu dulu banyak. Bisa beli berapa mangkok bakso katanya waktu itu, entah saya juga lupa.

Walimah pernikahan mereka berlangsung sederhana di sebuah kontrakan, dua buah kursi kayu jadi saksi bisu genre furnitur. Ya, hanya dua kursi kayu itu, kawan. Senyum dan bahagia, saya berani jamin itu yang menghias raut kedua orang tua saya di hari itu. Jangan kira mereka akan malu atau sungkan dengan kondisi yang seadanya. Mereka berdua sama-sama… fighter, mungkin itu kosakatanya kalau kita sebut sekarang.

Ibu saya ini wanita yang melepaskan tawaran kuliah jurusan kedokteran hanya agar Bapak tidak merasa berat tersanding, wanita yang melepas aneka tawaran karir selama hidupnya hanya untuk menurut pada ayah dan suaminya, wanita yang lebih memilih ayah saya dibanding yang lain-lain yang lebih mapan atau tampan, wanita yang membuat saya terkejut dengan kebaya yang ia gunakan saat menikah, ia (dulu) wanita bertubuh kecil ramping begitu, ternyata (tak terpikir betapa saya berkontribusi melebarkannya, haha). Ibu saya anak sulung yang dihormati adik-adiknya, anak yang dijamin baiknya oleh kedua orangtuanya, wanita paling tegas dan bijak yang pernah saya temui sampai dengan sekarang.

Cukup bijak untuk mengancam dengan “yaudah, kalau gitu mama cucinya pake r*inso” pas s*unlight di rumah abis dan saya bilang ‘bentar ya ma’. Saya langsung bergerak, sodara-sodara – demi umat. Sekalipun bercanda saya tau dia tidak main-main, dan nasi goreng aroma deterjen itu kurang pas sepertinya.

Bapak ini laki-laki yang masa kecilnya sempat melewati masa-masa harus jualan es lilin untuk hidup, tidur di angkot, jadi anak rel, terminal dan lain-lain. Kata om dulu Bapak ini jarang ada yang berani ngajak berantem. Berdasarkan kesaksian keluarga dan dirinya pun katanya dulu kecil bisa makan beling. Kalau sekarang udah ga berani… Entah apa yang membuatnya melewati masa-masa itu tidak dengan minuman, narkoba atau apapun – hanya puisi, lukisan, sesekali ngeband dan pasti buku, buku, dan buku lagi (rumah saya – kalau sedang rapi mungkin sedikit banyak sudah jadi semi perpustakaan. Kalau kamar Bapak sudah seperti perpustakaan dengan fasilitas kasur, mungkin).

Oh, ayah saya juga suka hewan. Mungkin bawaan Kakek yang begitu gemar dengan kucing. Bapak mulai merambah spesies lain: monyet. Ya, kami pelihara monyet di rumah. Lumayan, bisa disuruh ambil-ambil barang kalau dilatihnya bener.

Mbah (ayah Ibu) seorang mualaf perantau dari Jawa, seorang guru yang ‘jadi pensiun’ karena dinilai ‘tidak loyal’ dengan tempat bekerjanya sewaktu itu – yang pada masanya mulai tanam-tanam nepotisme. Kakek (ayah Bapak) anak dari rantauan arab, seorang lulusan SD, yang sempat menjadi tukang becak, supir angkot, dan lain-lain. Hingga ia akhirnya sukses sebagai pedagang besi – berbagai macam ‘besi’. Ya ‘sukses’ dalam artian materi yang sampai dengan sekarang sepertinya belum berhasil disusul oleh anak-anaknya.

Balik lagi.. maka masa-masa itu dimulai… Masa di mana Bapak dan Ibu  saya menjalani hidup mulai dari tinggal di bedeng yang listriknya menumpang dari tetangga, lalu pindah ke ‘kolong’ rumah orang, lalu lain-lain lagi yang setiap kali Ibu saya cerita yang saya dengar hanya bagian-bagian romantis. Ya, kata siapa cinta tidak cukup untuk makan? ‘Berkah’ itu Tuhan yang jamin. Coba perhatikan bagaimana Mbah tidak mempertanyakan masalah itu pada Ibu saya. Lalu perhatikan juga bagaimana Kakek tidak ‘memberikan’ rumah dan segala macam fasilitas ‘label layak’ untuk Ayah saya, walau kapanpun dia mau dia mampu. Konsep ‘prinsip’ sedari awal sudah jadi landasan langkah mereka memulai.

6 tahun umur pernikahan mereka kemudian, alhamdulillah, saya lahir. Makin lebarlah senyum-senyum di mata mereka. Mungkin karena saya dulu lucu soalnya, dulu. Itu yang saya lihat di foto-foto keluarga hasil kamera analog Fujifilm yang sekarang susah dicari rollnya itu.


Maka mohon diingat, 23 tahun perjalanan makna saya dimulai dari definisi ‘cinta’ yang orang tua saya jalani. ‘Cinta’ yang membuat mereka mampu menjalaninya seperti itu. Seperti Bapak yang sekalipun tidak pernah ‘ngapel’in Ibu saya, melainkan selalu ngobrol dengan Mbah tiap malam mingguan. Seperti mereka yang kenal sejak smp, lalu bertalian rasa lewat puisi khas Bapak.

Tulisan ini, tentang 23 tahun yang saya habiskan hanya untuk mengerti tempat saya memulai…

akhir bag.1

lanjut ke bag.2…

Jangan serius gitu bacanya.
Spoiler: abis ini kita bahas ‘cinta’ hasil branding yo. Mungkin bisa juga diskusi dikit jalannya cinta itu ke soal nikah. Ah, ga seberat itu…

#1 Rebrand – The Blue Ocean (Kok Trump? -_-a)

Hai, apa kabar?
Saya maunya kamu sehat dan bebas dari beban pikiran disana.

Sesuai dengan spoiler di post #0 kemarin, hari ini kita akan ngebahas hal-hal dengan sesuatu yang namanya Blue Ocean Strategy. Ini salah satu strategi bisnis yang ngetren sejak 2005 lalu. Strategi ini juga konon disebut sebagai pola yang digunakan oleh Cirque de Soleil untuk ngehits saat industri sirkus justru sedang turun-turunnya. Lengkapnya? gugel bung! Ini 2016!

Nah, blue ocean strategy (selanjutnya kita sebut ‘BOS’, biar saya ga cape ngetik Ctrl+I) ini akan kita jadiin kacamata untuk ngebahas beberapa fenomena atau topik yang masih anget. Hmm.. Saya lagi mau ngebahas trump, pilkada ibukota,… sama soal jadi  diri sendiri lewat perspektif BOS ini.

BOS

Singkat aja kita bahas BOS ini.

Nah,

tools-value-innovation

sumber: blueoceanstrategy.com

Taraaa~ Ini namanya BOS cost value trade off. Izinin saya jelasin dikit. Buat yang kuliah manajemen atau bisnis BOS biasanya diajarin dalam perumpamaan analoginya:

Red Ocean adalah zona persaingan, dimana kompetitor saling membunuh, berdarah-darah, sampe tu samudera ikut merah.
Blue Ocean sebaliknya, adalah zona hidup bisnis dimana persaingan bukanlah sesuatu yang relevan.

Tapi.. itu hanya pengantar sederhana ke BOSnya. Kunci BOS ada di cost value trade off di atas itu.

Gini, kamu liat segitiga yang atas. Nah, itu komposisi biaya (alat1, alat2, lokasi, operasional, dll) dari suatu bisnis. Kamu liat segitiga yang bawah, itu komposisi value (penampilan, rasa, fitur, dll) yang dicari oleh konsumen. Konsep ini berani. Berani karena penurunan cost (peningkatan efesiensi) justru ditembak ke apa yang paling dicari oleh konsumen (peningkatan efektivitas). Segitiga atas itu hasil kerja ketangkasan dan kecekatan kerja otak kiri, sedang segitiga bawah kepekaan dan kreativitas otak kanan, kepake dua-duanya.

Sederhananya, konsep BOS ini ngajak kita melakukan sesuatu dengan cara yang lebih mudah untuk memberikan hasil yang lebih baik dari yang lain. Kalau konsep berkahnya mungkin kembali ke jalan yang lurus dengan berhenti melakukan hal yang sia-sia….. (spoiler konspirasi).

Udahlah jangan pusing.Yok, langsung aja..

Trump

trump-money-proof

Tarraaaaaaa…ra.ra..mp. trump.. Pfft.. Sori, bukannya saya ada dendam personal sama doi. Ngga deng, emang saya kesel. Yah kalian taulah kenapa saya kesel.

Nah, mulai pake kacamata BOSnya tadi.

Dalam ilmu marketing sederhana, suatu produk punya tiga dimensi kepuasan: pelayanan cepat, harga murah, dan kualitas yang baik. Cara masukin produk ke pasar adalah dengan memilih dua dari tiga dimensi tadi, lalu tembakkan ke target konsumen yang pas.

Tapi, apa kamu tau? Pada kenyataannya mewujudkan suatu produk dengan tiga dimensi itu bukanlah hal yang mustahil. Tapi, coba aja kamu bayangin, gimana hasilnya?
Yup… want atau demand tadi akan berbenturan dengan trust issue. Konsumen bakal mempertanyakan. Ibaratnya ga mungkinlah orang mau ngejual iPhone 7 harga Rp200.000 – dengan pemahaman yang sama, orang juga bakal mikir ‘saya ga mau beli’. Sekalipun orang jujur yang jualan, orang bakal ga percaya.

Terkecuali, kalau ada atribut keempat. Contoh: pelayanan cepat + harga murah + kualitas baik + haram. Ya, masih banyak dimensi lain selain haram/halal. Terlalu banyak untuk diidentifikasi.

Nah, sekarang kita pake analogi atribut kepuasan itu ke komoditas yang namanya ‘manusia’.

Kita mundur sedikit. Kalau memang ada yang nawarin kita barang yang pelayanannya cepet, kualitas top, harga miring parah pasti kita bertanya-tanya. Nah, anggaplah ada pula sosok manusia sesempurna itu. Kita pasti bertanya-tanya kan? “Ada apanya nih?”. Tanpa kita sadari, satu hal yang menjadi syarat penerimaan konsumen atau manusia terhadap suatu barang atau manusia lain bukanlah pelayanan cepat, harga yang murah ataupun kualitas yang top. Tapi ini: kelemahan. Untuk manusia, ‘kelemahan’ adalah syarat yang harus dimiliki agar ia dapat dicintai atau diterima oleh manusia lain.

Kelemahan adalah syarat seseorang dapat menerima empati dari manusia yang lain.

em·pa·thy/ˈempəTHē/
noun: empathy
the ability to understand and share the feelings of another.
Bila seseorang tidak memiliki kelemahan, orang lain akan sulit untuk merasa ‘sama’dengan orang itu. Bila sudah sulit merasa ‘sama’ akan sulit orang itu mau diajak untuk merasakan hal yang sama.
Terpilihnya Trump sebagai presiden ini unik sekali. Dari segi cost, biaya untuk terlihat ‘baik’ atau ‘intelijen’ ditekan habis-habisan. Persetan latihan bicara sopan, tata krama, wibawa atau apalah itu. Tapi, semua penurunan biaya itu justru disusun dengan apik untuk menyambut kebutuhan konsumen akan sebuah value yang jarang disasar oleh kompetitor: empati. Yang trump lakukan tidak lebih dari menonjolkan dirinya sebagai sosok pemimpin yang sama dengan apa yang ia akan pimpin. Teori pemimpin sejati adalah yang memiliki visi perubahan sepertinya tidak begitu berlaku di arena kemarin.
Satu hal yang miris. Kalian tau apa hal yang membuat mayoritas amerika berempati (untuk kasus trump), ini: Ignorance. Miris. Maka dari itu, jangan pernah minta saya untuk kagum dengan negara itu. Maaf, saya tidak suka makanan Mukidi(McD).
Pertanyaan vitalnya: Siapa yang telah mengedukasi market amerika hingga menyimpan needs akan value seperti itu? Hei, jangan-jangan bukan cuma amerika?
2016_12_11_20-52-45
Contoh tipikal amerika ngemengin masalah. Kurang lebih seumuran kita. Tolong, jangan stereotip, ini cuman sampel yang pas lagi agak kurangnya aja.

Pilkada JKT

Yah, setelah baca kerocosan saya diatas bisa jadi kita sekarang punya kacamata yang sama. ‘Kacamata’ ini bisa kita coba pake juga untuk ngeliat kasus pemilihan-pemilihan lain ke depan.

Sebut saja Bapak Ahok ini, misalnya. Menurut kamu, setelah tau kejadian yang menimpa beliau baru-baru ini maka kebutuhan empati siapa saja yang dapat ia penuhi?

Anggap saja, untuk kasus ini, kita belah dua garis besar kebutuhan menyalurkan empati masyarakat (sebagai konsumen). Jelas bukan antara muslim dan non-muslim. Tapi ini klasifikasi empatinya:

  1. Yang merasa salah/dipersalahkan/baik-baik saja hidupnya karena tidak benar-benar lurus sejalan dengan Islam
  2. Yang merasa yakin/benar bahwa hidup harus selurus sejalan dengan ajaran Islam.

Menurut kamu, secara persentase, mana golongan yang lebih besar? Golongan 1 atau golongan 2? Pertanyaannya kini bukan berapa yang datang ke Istiqlal atau Monas kemarin, tapi berapa besar jumlah masyarakat Jakarta yang datang. Lalu seberapa besar proporsi jumlah yang datang dengan yang masih beraktivitas normal.

Apapun jawabanmu, perhitungan kita tidak selesai sampai disana. Coba pikir, apakah golongan 1 sudah memiliki suatu produk (pilihan) yang sama untuk  needs empati mereka? Bagaimana dengan golongan 2? Satu pilihan produkkah mereka untuk kebutuhan needs empatinya? Jelas, yang terfokus akan memiliki proporsi suara kolektif lebih besar.

Bila Pak Ahok tidak jadi dihukum, menurut perhitungan amatiran saya, sepertinya kita tau hasil putaran pemilihan selanjutnya. Tapi satu hal yang saya yakini pasti, kuasa Allah mutlak. Iya, saya golongan 2. Maaf sekali wahai para golongan 1, kita masih temenan kok.

Jadi Diri Sendiri

Nah, yang satu ini sebenernya ga selini topik sama Trump atau PKD JKT, tapi ga ada salahnya kita pake kacamata BOS ini selain untuk mikir milih orang juga untuk ‘jualan’ diri sendiri.

“Gimana aku bisa tau aku butuh kamu kalau bahkan aku ga tau aku ini sebenernya siapa?!”.

Ucapan Nania ke Rafli, setelah lupa ingatan – Dari film Cinta Laki-laki Biasa (jangan salah paham, saya dipaksa suatu ‘konspirasi yang lebih besar’untuk menonton film ini. -_-a). Hei, mungkin kamu perlu nonton juga. Banyak hal ‘tersirat’ di film ini.

Hai, sahabat. Saya ga tau apa yang sedang kamu cari atau kemana sebenarnya tujuan spesifik kamu. Tapi masing-masing hidup kita ini adalah konsumen disaat yang sama juga sebuah produk. Kamu bisa memilih hidup dalam perspektif Red Ocean yang dimana-mana terlihat sebagai persaingan, lalu memodifikasi dirimu untuk memenangkan persaingan itu, lantas memilih produk yang pada akhirnya memenangkan persaingan. Atau hidup dalam sebuah pandangan Blue Ocean dimana persaingan tidaklah relevan, tiap masing-masing hanya ada untuk menjadi dirinya sendiri dengan tujuan spesifik masing-masing, lalu memilih produk yang memang benar-benar hanya untukmu pada akhirnya nanti. Ya, masing-masing kita hanya satu, dan yakinlah produk yang dibuat hanya satu itu adalah produk yang eksklusif.

Sebagai sebuah produk eksklusif, kita hanya perlu menjadi diri sendiri. Tidak sekalipun kita perlu menyampaikan bahwa kita ada untuk seseorang, suatu perusahaan, atau sesuatu yang lain, kecuali Tuhan. Ekslusivitas kita memang untukNya, saja. Pun Dia pula yang membuat mereka yang benar-benar mencarimu, membutuhkanmu, tergerak padamu dengan sendirinya. Mereka mungkin bergerak atau memperhatikan mu dari jauh sekarang.

Kalau pun mereka sedang memperhatikan dari jauh, yang mereka cari bukanlah jawaban “ada akukah disana?” atau “tentang aku kah itu?”. Karena yang ingin dilihatnya dan ditemukannya adalah kau, bukan dirinya sendiri. Bukan masalah apakah kau memikirkannya, takkan pernah soal itu. Percayalah, sedari dulu pun begitu.

Tapi sekedar ingin tahu hal-hal kecil tentangmu: apa makanan kesukaanmu, apa yang membuatmu senang, bagaimana caramu menikmati akhir pekan, apa buku yang sedang kau baca, bagaimana cara membuatmu tertawa, apa warna kesukaanmu, bagaimana kau menata meja kamarmu – ah, dan banyak hal kecil lainnya. Kecil mungkin untukmu, tapi justru bagi mereka itu hal-hal yang istimewa. Lebih besar dari sekedar nama mereka sendiri, dan memang itu yang mereka cari.

Hanya dengan cara seperti itu, pada akhirnya kita akan terkejut dengan hal-hal yang “kenapa bisa kebetulan sekali”. Membiarkannya mengalir. Mengizinkan bahwa warna samudera memang hanya biru. Oh, tambah dengan berjuta warna lain saat kita menyelaminya.

Eh, ini soal apa? Bisa soal apapun, mulai dari kerjaan sampe jodoh atau yang lebih besar dari itu lagi.

Penutup – Samudera itu luas

Pos ini panjang ya? Haha. Yah, gapapalah. Kalau sampai disini artinya kalian memang ingin belajar banyak. Walau pada akhinrnya kalian tidak puas. Maafkan saya yang masih belajar ini.

Saya suka nama strategi ini, Blue Ocean. Orang bilang, dalam dunia yang lebih luas dari samudera ini butuh keberanian untuk percaya apa yang ditakdirkan untukmu akan datang sendirinya padamu. Namun para nelayan mengajari, butuh lebih dari itu. Bukan hanya berani percaya, tapi perlu kemampuan, keahlian, ketangkasan membaca angin, membaca arah bintang, mengendalikan kapal, kekuatan menggenggam layar, dan kemampuan bekerjasama tim untuk mencari apa yang benar-benar dicari di sesuatu yang seluas samudera.

Tapi kamu tau apa skill yang  paling penting?

Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari Berbangkit  As-Saffat : 143-144.

Izinkan saya menggunakan translasi yang beda dari Depag untuk ayat ini. Kalau depag translasinya berzikir itu lebih ke bertasbih yang berarti ibadah lisan. Saya lebih suka kata ‘mengingat’ yang berarti dilakukan sembari melakukan apa saja – lebih dari ibadah lisan.

Ya, itu skill paling penting.

Next Chapter

#2 Rebrand – Love is What ? -_-a

Tools: Kano Model – Dari jepang, teori yang nunjukkin ga semua atribut kebutuhan itu sama, salah satu penyebab skripsi saya telat terbit setahun kemarin (wkwk), salah satu bahan riset yang sayangnya menemui kesalahan pemahaman dalam dunia akademis di Indonesia…

Topic: didedikasikan untuk mendongkrak popularitas blog, produk yang akan kita bahas, jodoh dan cinta. wk

Spoiler: Atribut produk cinta  1. Trust, 2. Care, 3. Respect, 4.Passion (Lust), 5.Responsibility, 6.(secret recipe)… Ya, yang ke-6 itu malah saya baru nemu juga. Ntar diceritain.

Wes, salam. Semoga sehat selalu disana.
Kalau mau diskusi boleh disini boleh di komen facebook. Selow ae.

Tertanda,
Kopibiru
Just a storm in a recycled paper coffee cup. -_-a

Potong Kambing Itu Soal ‘Customer Social Responsibility’, lah?

Mungkin tidak banyak dari kita yang tahu bahwa tiga hari kurang dari penyerangan paris pada November 2015 lalu, Europe Union (EU) membulatkan keputusan untuk melabel produk Israel yang diproduksi di daerah ‘pendudukan’ Palestina sebagai ilegal. Ya, pelarangan itu diluncurkan pada tanggal 10, lalu penyerangan di paris terjadi tepat pada tanggal 13. Kebetulan yang pas kalau menurut saya. Itu ‘teroris’ kayanya agak tolol milih tanggal buat branding aksinya. Yah, terlepas dari siapapun yang aksi dan milih tanggalnya, sih. Maaf.

Wes, sebenernya isu itu juga bukan isu yang baru. Dari 2014, EU juga udah ngebahas soal isu ini. Pelarangan pada akhir tahun 2015 itu tentu mempengaruhi sales produk israel. Katanya sih kecil, cuman kurang dari 5% gitu. Tapi dampak dari keputusan ini terhadap pasar yang mengkhawatirkan mereka. Bayangkan kalau negara-negara berkembang (major market) mereka sadar dan berani gitu juga karena punya figur EU sebagai tameng, atau ngejadiin sikap itu sebagai tren.

Produk-produk israel yang berkendala ini pun tidaklah kecil cakupan marketnya. Mulai dari soda, kosmetik, gadget, bahkan sampai daleman mungkin ada. Salah satu yang paling kita sering temui mungkin soda yang dipajang di dalem kotak merah di minimarket itu. Iya, yang itu. Yang kalau di dalem negri jotos-jotosan sama teh botol sosro, sampe ngeluarin produk teh sendiri buat ngambil marketnya. Sosro bales lagi ngeluarin teh bersoda buat ngambil market yang diambil tadi lagi. 

Entah, nulis ini saya jadi kepikiran. Jangan-jangan Inggris sebagai pionir EU ngeluarin BIG karena kesel juga sama soda satu ini. Seenaknya masarin kebebasan dari tanah jajahan, makanya diserang pake soda harga bantingan. Atau mungkin juga sekedar untuk keperluan komersil EU di negara berkembang? Entahlah. Toh, komersialisasi dan nilai yang diyakini pada dasarnya selalu berjalan beriringan. Dengan uang sebagau penunjuk jalan tentunya, ehe.. 

Setau saya pada akhirnya EU melepas label ‘haram’ atau ‘illegal’ pada produk-produk israel itu. Sayangnya untuk yang ini saya belum ketemu berita terbitnya. Dari berita rilis, Jan’16 lalu EU masih kekeuh nge’ban‘ produk israel.

Di Indonesia

Kalau kita sadari, kita ini hidup di negara yang keren. Uyey. Iyalah, negara mana yang bisa jadiin kalimat “…karena itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan..” sebagai dasar negaranya selain kita? Di saat negara lain, mungkin yang adidaya itu menjadikan kemerdekaan, kebebasan, sebagai tujuan akhir, bentuk akhir ideal, kita tidak. Kita adalah bangsa yang merdekanya merupakan alasan kita untuk menghapuskan penjajahan dari muka bumi, untuk selamanya atas nama kemanusiaan dan keadilan. Jujur, untuk yang satu ini saya beneran bangga jadi rakyat Indonesia.

Sayangnya, isu larangan produk israel di negara kita ini terperosok dalam kacamata rasisme agama. Islam, saya sebutkan langsung saja. Ya, pendekatan pelarangan dimulai dari frase sendu saudara-saudara kita yang dibunuh dan sayangnya seringkali berakhir pada pernyataan (sok) bijak ‘bukan masalah dari siapa, tapi apa yang dibeli dan bagaimana membelinya’ atau ‘jangan begitu, ada kebutuhan orang lain disana’. Ya, yang ngebahas itu seperti itu juga paling orang-orang muslim lagi, dengan cara seperti itu lagi. Gitu-gitu aja.

Mayoritas EU disana, kalau boleh kalian tanya langsung satu-satu, mungkin seorang ateis. Mereka tak perlu basa-basi agama hanya untuk melabelisasi sebotol soda atau selapis sempak. Toh, bukti nyata di depan mata. Konsekuensinya, konsumen mereka harus sadar apa yang mereka beli lalu keuntungan pembeliannya akan berdampak apa. Labeli saja ‘illegal’, tetap mau masukkan di toko, silakan. Kalau disini ‘illegal’ tadi mungkin tulisannya bakal berubah jadi pake huruf arab, terus ada tulisan by ulama. Sudah jadi kebiasaan kita, untuk mentok di agama. Ckck..

Perkara kambing

Dari soda kita nyambung ke kambing… 

Ya, soal kambing ini tentulah banyak yang sudah menyampaikan faedahnya. Tentang kerelaan, keikhlasan, dan perayaan. Dari tatap mata tulus seekor kambing kita mungkin mengingat kerelaan seorang anak untuk dikurbankan, kerelaan seorang ayah untuk mengurbankan, kerelaan seorang istri untuk ditinggalkan di sebuah padang gurun, kerelaan seorang suami untuk meninggalkan yang tersayang walau hati tersayat, kerelaan seorang ibu untuk menapaki berbukitan gersang demi seteguk air, dan sifat Tuhan Yang Maha Mensyukuri. Pikirkan saja, bagaimana Ia memilih kata ‘kurban’ untuk kita, padahal yang kita berikan memang cuma milikNya. Sedari mula, kita berkorban apa?

Terlepas dari faedah keagamaan itu, mari kita pahami sisi duniawi seekor kambing. Ya, kambing itu dibeli lalu dipotong hanya untuk dibagi-bagi. Bayangkan, betapa asiknya. Terlepas asik itu saat mendengar nama pemberi kurban di TOA masjid atau memang sekedar dari senyum tetangga. Bayangkan, kalau pengeluaran kita sepenuhnya bisa digunakan untuk membeli yang seperti kambing tadi. Setidaknya untuk keluarga. Ya, bayangkan kalau kita menegluarkan uang hanya untuk yang bisa bagi-bagi setiap hari.

Tanggung jawab

Antara kambing dan soda ini ada sesuatu. Bukan soal komplikasi kolesterol dan kandungan gula yang tinggi, bukan. Tapi tanggung jawab. Ya, perhitungan pertanggungjawaban pembeli saat memutuskan membeli sesuatu tidak berakhir hanya pada tahap konsumsi. Itu yang diajarkan seekor kambing pada kita. Bahwa ada orang-orang yang berbahagia atas pengorbanannya, atas pengeluaran yang kita lakukan. Lalu bagaimana dengan sebotol soda? Tegakah kita membeli sesuatu sekedar karena haus, lantas keuntungannya ditabung untuk jadi peluru lalu dilepas ke kepala seorang ayah, atau diakumulasi untuk jadi rudal lantas diluncurkan ke suatu sekolah?

Sebagai seorang pembeli, sudahkah kita memikirkan dampak dari pembelian-pembelian (pengeluaran) yang kita lakukan?

Pengeluaran itu ketakwaan

This is the Book about which there is no doubt, a guidance for those conscious of Allah (muttaqeen). Who believe in the unseen, establish prayer, and spend out of what We have provided for them, (Al Baqara (2); 2-3)

Kalau kita baca di translasi Bahasa Indonesia, kita akan menemukan frase ‘mereka yang bertakwa’ dan ‘menafkahkan (sebagian) rizki yang kami berikan kepada mereka’. Saya ga tau kenapa ada ‘(sebagian)’nya itu. Kok nanggung, gitu. Ah, saya mungkin yang kurang paham. Maklumlah, saya belum bisa bahasa arab.

Dari kutipan di atas, dapat dipahami bahwa pengeluaran seorang yang mengimani Alquran terkait dengan ketakwaannya. Sementara para ateis sekedar menyadari bahwa pengeluaran mereka memiliki dampak sosial. Menjadi suatu kontradiksi, apabila bangsa yang mayoritasnya ingin menjadi bertakwa malah tertinggal dalam kebijaksanaan konsumsi dari mereka yang sekedar menyadari tanggung jawab sosial.

Entahlah, saya jadi terpikir. Saat negara ini membahas pemboykotan produk israel atas nama agama, rasa-rasanya bisa jadi tiap muslim hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang dibahas adalah konsekuensi pembelian atas surga-nerakanya sendiri nanti, etis tidaknya mereka di mata manusia lain sekarang. Egoisme atas nama tuhan. 

Sementara para ateis nan jauh disana saat membahas labelling ilegal produk israel mungkin sedang memikirkan nasib mereka yang tertindas. Tentang mereka yang di tempat kuliahnya harus melihat teman tertembak, di rumahnya harus rela keluarga diculik, di masjidnya pemuda tidak boleh masuk, di kotanya air dan listrik tidak mengalir. Kepedulian atas nama kemanusiaan.

Entahlah, mungkin kita saja yang salah memahami ‘takwa’. Kita kira ‘takwa’ itu gelar, label. Lantas kita jadi egois. Padahal bisa jadi ‘takwa’ itu sebuah job, tugas, peran.

Ied di Indonesia ini tentu meriah. Namun apakah kemeriahan ini cukup untuk menganggap masalah saudara yang semestinya merayakan dengan kemeriahan yang sama dengan kita ini tidak ada? Entah lagi, saya kurang tahu.

Satu momen yang membuat saya menyungging senyum. Saat membuka email ada tawaran dari change.org dan kitabisa.com untuk berkurban sampai ke pelosok Indonesia, bahkan bisa sampai ke palestina. Ya, saya melihat nominalnya. Tidak terlalu mahal, sungguh. Sayang dengan kondisi saya yang sekarang tombol ‘kirimkan kurban’ itu tidak bisa saya klik. Maafkan.

Rahasia kecil

Ada sebuah rahasia kecil. Berbagai platform media sosial memudahkan kita untuk berinteraksi dengan dunia luar. Instagram, sebut saja itu. Platform ini menganut algoritma cherry-picking yang sadis, preferensi kita dibaca berdasarkan view dan durasi saat melihat suatu post, tidak harus sampai like. Jadi kalau mau kepo aktivitas sebenarnya mata suatu manusia di ig, silakan intip mayoritas konten jendela explore mereka. Serius, itu yang sebenarnya mereka sering liat, wkwk.. Well, platform ini sendiri banyak menghadirkan pos-pos yang membahas aneka isu. Silakan kalian cari mereka yang membahas isu palestin, atau mungkin sudut-sudut dunia lain yang di-mute-kan. Insya allah di ig ada. 

Apabila kita bisa melayani partisipan suatu pos itu dalam berbahasa, jangan sekedar comment atau like. Cari akun yang profilnya sesuai dengan kalian. Lalu silakan ajak ngobrol, via DM. Kalian mungkin akan terkejut seberapa responsifnya mereka. Silakan bicara langsung, tanyakan apa yang kalian ingin tahu. Tambah teman. Salah satu yang saya temukan adalah fatima, seorang 19 tahun yang kuliah di yerusalem, hanya untuk mendengar benar bahwa anak muda tidak bisa solat di Al-Aqsa dan kabar teman kampusnya yang tertembak tadi. Kalau kalian bosen dengan inputan manusia sini yang gitu-gitu aja, bolehlah nyoba-nyoba ngobrol dengan mereka yang dunianya ga kebayang lagi untuk jadi seperti kita disini.

Simpul-kan

Uwes, lepas dari ied ini. Mari kita ingat bahwa kurban mengajarkan untuk menjadi selfless, ga ego. Bukan soal kita. Bukan soal kita pake baju apa, makan apa, tapi apa yang kita lepaskan. Serela apa kita melepaskan. 

Lalu inget pengeluaran kita itu ntar ujungnya dipake buat apa. Itu penting. Kalau mau mentingin perkara takwanya ya silakan. Kalau mau mentingin tren global dalam bertanggung jawab sosial ya juga silakan. Yang jelas, penting untuk manusia menggunakan otak dan uangnya dengan benar dan baik. Itu jelas.

Wes, sebelumnya maaf kalau saya nggak ngasih link-link bacaan terkait. Silakan kalian cari tau sendiri, gampang kok nyari di gugel. Saya saranin pake bahasa inggris. Kalo bahasa kita.. Ya.. Tau sendirilah.

Saya tau banyak yang bakal males. Di saat yang sama, saya tau kalau ada yang sampe nyari berita itu, ia sudah dipastikan (insya allah) seorang influencer, yang dengan caranya sendiri akan mempengaruhi orang lain setelah mengetahui infonya. Di situ saya berhasil. Wk

Wes, salam dan..

Selamat menikmati.

Oh, maaf. Lupa. Saya dan keluarga di rumah ga beli dari kompeni soda itu lagi. Well, ga cuma perusahaan itu aja sebenernya, tapi ambil aja jadi contoh. Ciao

Dia, Ibunya, dan Layang-layang

Di suatu pagi, seorang anak berlari, menghampiri ibunya yang sedang mencuci.

Buk, tadi temanku cerita tentang nasehat ibunya

Apa itu nak?

Kata ibunya laki-laki adalah layang-layang dan wanita adalah benang. Dibalik ketinggian terbang layang-layang selalu ada benang yang menjaganya agar terus menangkap angin dan takkan kehilangan arah. Benar begitu Buk?

Ibunya hanya tersenyum, lalu berkata

Anakku, kau ingat kalau di tk diajarkan lagu ‘ambilkan bulan bu’?

Iya Buk, aku ingat

Kau tau kenapa ibu-ibu tidak pernah protes dengan permintaan anaknya dalam lagu itu? Tidak seperti lagu ‘jatuh bangun aku mengejarmu’ yang biasa dinyanyikan wawak depan rumah itu, yang saat wanitanya meminta rembulan saja ia menyerah tak sanggup.

Aku belum diajari itu Buk

Anakku, buat wanita seperti Ibu, memberikan rembulan adalah hal yang kecil apabila bintang atau matahari di hidup kami yang meminta.

Anak itu tersenyum, ia mengerti. Setidaknya arti matahari

Karena itu, Ibu minta padamu. Jangan pernah kau jadi seorang laki-laki layangan yang hidupnya bergantung pada wanita benang. Jangan pernah pula kau kira wanita hanya pantas menali lantas cuma bisa mengikuti.

Aku belum terlalu mengerti Buk. Lalu bagaimana?

Nak, elang hanya tunduk pada angin, begitu pula dedaunan gugur, benih bunga rumput, dan ombak di laut.

Ya Buk. Lalu?

Kau hanya cukup mengingat angin itu punya siapa

Ah.. Baik Buk.. Aku main lagi ya

Hei nak, bantu ibuk..

Dan anak itu hanya berlari, lagi