Note: 29 Dec 2017

Distance doesn’t have anything to do with wandering off.
And not all wanderers are lost.

Kita perlu setidaknya sebuah tujuan untuk bisa tersesat dalam sebuah perjalanan atau saat diam sama sekali.

Iklan

Note (7:23) – Kurikulum Adam

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan mencipatakan manusia dari tanah” (38:71).

Lalu kurikulum Adam sebagai manusia pun dimulai. Adam memulai kurikulum sesuai dengan penciptaannya, untuk beribadah (51:56), dan ibadah pertama adam adalah belajar dan berpikir.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya,… (2:31).

Tapi kurikulum Adam, sebagai seorang manusia dan khalifah, tak selesai di surga.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (2:35 – 36).

Sebuah pertanyaan, kenapa Adam yang diciptakan di surga untuk jadi khalifah di Bumi, harus digelincirkan syaitan terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas.

Ingatlah ketika Tuhanmu berifrman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (2:30).

Ada nama, yang tidak diajarkan pada Adam di surga, dan baru sepenuhnya Adam pahami dan dapat mengerti saat ia turun ke Bumi.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (2:37).

Adam tak akan pernah benar-benar mengerti dan mengenali, atau mungkin mendengar Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang saat ia di surga. Karena malaikat tak akan pernah berbuat dosa, sedang iblis tak akan bertaubat.


Setelah melakukan dosa, tergelincir ke bumi, bertaubat, lalu diampuni baru lengkaplah kurikulum Adam sebagai seorang manusia. Adam sudah mengenali Tuhannya sebagai Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Pun ia juga telah mengenali dirinya sendiri sebagai manusia yang hakikatnya melakukan dosa.

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (2:286)

Yang manakah ujian sebenarnya bagi Adam?
Untuk tidak memakan buah khuldi,
ataukah untuk bertaubat setelahnya?

Tuhan berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (2:30).