#2 Tentang Cinta: Unframe Your Heart. bag.1

Assalamualaikum, kawan

Saya seorang pemuda 23 tahun dan tulisan ini akan menyampaikan perjalanan makna tentang ‘cinta’ yang sudah saya jalani sampai detik saya selesai menulis pos ini.

Saya ga jamin perjalanan saya asik dibaca, tapi insya Allah beda dari yang selama ini kamu pernah tau dan semoga bisa dapet satu dua pesan yang buat “oh, rupanya ga cuman kaya gitu…”. Soalnya perjalanan ini isinya bukan tentang cerita saya sendiri.

Well, pada mulanya itu.. begini..

23 tahun tentang cinta, apa yang kalian bayangkan?


1988, waktu itu Ibu saya juga berumur 23 tahun.

“Kalau sampai bulan Februari ini kamu tidak lamar anak saya, akan saya nikahkan ia dengan yang lain” 

pesan Mbah (ayahnya Ibu) pada Bapak saya waktu itu.

“Kalau kamu belum wisuda, Ayah tidak akan biayai pernikahan kamu”

pesan Kakek (ayahnya Bapak) untuk Bapak. Bapak saya sendiri pun sewaktu itu sedang menyelesaikan pascasarjananya di UI. Sedari awal juga tidak dibiayai Kakek hidupnya, kuliahnya ia biayai sendiri. Satu dua dari sambilan dan mengajar, tiga empat dari kampus dan beasiswa.

Mendapat tantangan ultimatum seperti itu, keputusan yang Bapak saya ambil: lanjut, jalan. Ia temui Mbah untuk melamar Ibu saya. Dengan kondisi ayah saya yang belum punya apa-apa, keputusan yang Ibu saya ambil: terima lanjut, jalan. Mendapat jawaban ‘lanjut’, Mbah mengizinkan untuk menjalani keputusan mereka, Mbah menerima lamaran Bapak dan Kakek tetap dengan keputusannya untuk tidak menyokong biaya-biaya yang Bapak saya butuhkan. Ayah saya, hai kawan, melamar wanita yang kelak saya panggil Mama itu hanya dengan tabungan beasiswanya. Jangan tanya berapa, kata Bapak itu dulu banyak. Bisa beli berapa mangkok bakso katanya waktu itu, entah saya juga lupa.

Walimah pernikahan mereka berlangsung sederhana di sebuah kontrakan, dua buah kursi kayu jadi saksi bisu genre furnitur. Ya, hanya dua kursi kayu itu, kawan. Senyum dan bahagia, saya berani jamin itu yang menghias raut kedua orang tua saya di hari itu. Jangan kira mereka akan malu atau sungkan dengan kondisi yang seadanya. Mereka berdua sama-sama… fighter, mungkin itu kosakatanya kalau kita sebut sekarang.

Ibu saya ini wanita yang melepaskan tawaran kuliah jurusan kedokteran hanya agar Bapak tidak merasa berat tersanding, wanita yang melepas aneka tawaran karir selama hidupnya hanya untuk menurut pada ayah dan suaminya, wanita yang lebih memilih ayah saya dibanding yang lain-lain yang lebih mapan atau tampan, wanita yang membuat saya terkejut dengan kebaya yang ia gunakan saat menikah, ia (dulu) wanita bertubuh kecil ramping begitu, ternyata (tak terpikir betapa saya berkontribusi melebarkannya, haha). Ibu saya anak sulung yang dihormati adik-adiknya, anak yang dijamin baiknya oleh kedua orangtuanya, wanita paling tegas dan bijak yang pernah saya temui sampai dengan sekarang.

Cukup bijak untuk mengancam dengan “yaudah, kalau gitu mama cucinya pake r*inso” pas s*unlight di rumah abis dan saya bilang ‘bentar ya ma’. Saya langsung bergerak, sodara-sodara – demi umat. Sekalipun bercanda saya tau dia tidak main-main, dan nasi goreng aroma deterjen itu kurang pas sepertinya.

Bapak ini laki-laki yang masa kecilnya sempat melewati masa-masa harus jualan es lilin untuk hidup, tidur di angkot, jadi anak rel, terminal dan lain-lain. Kata om dulu Bapak ini jarang ada yang berani ngajak berantem. Berdasarkan kesaksian keluarga dan dirinya pun katanya dulu kecil bisa makan beling. Kalau sekarang udah ga berani… Entah apa yang membuatnya melewati masa-masa itu tidak dengan minuman, narkoba atau apapun – hanya puisi, lukisan, sesekali ngeband dan pasti buku, buku, dan buku lagi (rumah saya – kalau sedang rapi mungkin sedikit banyak sudah jadi semi perpustakaan. Kalau kamar Bapak sudah seperti perpustakaan dengan fasilitas kasur, mungkin).

Oh, ayah saya juga suka hewan. Mungkin bawaan Kakek yang begitu gemar dengan kucing. Bapak mulai merambah spesies lain: monyet. Ya, kami pelihara monyet di rumah. Lumayan, bisa disuruh ambil-ambil barang kalau dilatihnya bener.

Mbah (ayah Ibu) seorang mualaf perantau dari Jawa, seorang guru yang ‘jadi pensiun’ karena dinilai ‘tidak loyal’ dengan tempat bekerjanya sewaktu itu – yang pada masanya mulai tanam-tanam nepotisme. Kakek (ayah Bapak) anak dari rantauan arab, seorang lulusan SD, yang sempat menjadi tukang becak, supir angkot, dan lain-lain. Hingga ia akhirnya sukses sebagai pedagang besi – berbagai macam ‘besi’. Ya ‘sukses’ dalam artian materi yang sampai dengan sekarang sepertinya belum berhasil disusul oleh anak-anaknya.

Balik lagi.. maka masa-masa itu dimulai… Masa di mana Bapak dan Ibu  saya menjalani hidup mulai dari tinggal di bedeng yang listriknya menumpang dari tetangga, lalu pindah ke ‘kolong’ rumah orang, lalu lain-lain lagi yang setiap kali Ibu saya cerita yang saya dengar hanya bagian-bagian romantis. Ya, kata siapa cinta tidak cukup untuk makan? ‘Berkah’ itu Tuhan yang jamin. Coba perhatikan bagaimana Mbah tidak mempertanyakan masalah itu pada Ibu saya. Lalu perhatikan juga bagaimana Kakek tidak ‘memberikan’ rumah dan segala macam fasilitas ‘label layak’ untuk Ayah saya, walau kapanpun dia mau dia mampu. Konsep ‘prinsip’ sedari awal sudah jadi landasan langkah mereka memulai.

6 tahun umur pernikahan mereka kemudian, alhamdulillah, saya lahir. Makin lebarlah senyum-senyum di mata mereka. Mungkin karena saya dulu lucu soalnya, dulu. Itu yang saya lihat di foto-foto keluarga hasil kamera analog Fujifilm yang sekarang susah dicari rollnya itu.


Maka mohon diingat, 23 tahun perjalanan makna saya dimulai dari definisi ‘cinta’ yang orang tua saya jalani. ‘Cinta’ yang membuat mereka mampu menjalaninya seperti itu. Seperti Bapak yang sekalipun tidak pernah ‘ngapel’in Ibu saya, melainkan selalu ngobrol dengan Mbah tiap malam mingguan. Seperti mereka yang kenal sejak smp, lalu bertalian rasa lewat puisi khas Bapak.

Tulisan ini, tentang 23 tahun yang saya habiskan hanya untuk mengerti tempat saya memulai…

akhir bag.1

lanjut ke bag.2…

Jangan serius gitu bacanya.
Spoiler: abis ini kita bahas ‘cinta’ hasil branding yo. Mungkin bisa juga diskusi dikit jalannya cinta itu ke soal nikah. Ah, ga seberat itu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s